Jangan Marah

Ada cara menangkap kepiting yang unik dari kota Sorong. Sebuah tongkat kayu yang panjang kemudian ujungnya diikat sebuah batu dengan seutas kawat. Setelah dipastikan batu sudah terikat sempurna, lalu tongkat dimasukan lubang kepiting berulang-ulang kali hingga membuat kepiting marah. Saat kepiting marah besar karena terganggu, kemudian ia akan menggigit batu yang terikat diujung tongkat. Pada waktu kepiting menggigit kuat, perlahan tongkat ditarik keatas dan akhirnya kepiting pun masuk dalam perahu.

 

Karena rasa marah yang tak terkontrol si kepiting menggit ujung tongkat tanpa merasa dirinya dalam bahaya dan akhirnya si kepiting ditaklukan dengan mudah. Begitu pun juga manusia jika marah maka dia akan dikalahkan oleh nafus amarahnya.

 

Pernah suatu saat datang kepada Nabi seorang badui dan meminta nasihat. Lalu rasulullah pun bersabda, jangan marah. Tidak puas dengan nasihat yang disampaikan si badui kembali meminta kepada rasulullah untuk dinasihati, Nabi pun mengulang berkata, jangan marah . Nasihat jangan marah  diulang sampai tiga kali.

 

Begitulah pentingnya nasihat jangan marah hingga diulang tiga kali oleh Nabi. Dalam hadits yang lain, Rasulullah pernah bersabda “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya pada saat marah”.[HR. Bukhari dan Muslim]

 

Pernah suatu ketika datang seorang ibu dan suaminya pada kami dan bercerita. Berkata sang suami, ketika anak kecil mereka melakukan sebuah kesalahan, istri selalu menyelesaikannya dengan amarah, kekerasan, namun ketika selesai memarahi dan memukul anaknya, istri tersdar dan menangis menyesal telah melakukan kekerasan pada anaknya.

 

Setelah menyusuri permasalahan yang menyebabkan prilaku Ibu tersebut, akhirnya ditemukan pada masa kecilnya sering dikasari dan dimarahi oleh orangtuanya. Seringnya mengalami perilaku tersebut akhirnya perilaku marah dan kasar tersebut terpendam dalam alam bawah sadarnya. Sehingga ketika dia mendapat kondisi dimana anaknya salah, maka secara spontan amarah dan prilaku kasarnya muncul otomatis.

 

Dari kacamata lain dapat dilihat bahwa Ibu ini telah mencontoh orangtuanya dalam hal kontrol diri saat emosi. Ekspresi, tingkah laku, respon terhadap kesalahan anak Ia saksikan sejak kecil, hal itu mengendap dalam memorinya dan menjadi file arsip dalam otak yang setiap saat bisa dipanggil ketika kondisi menghendaki. Oleh karena itu jangan heran ketika seorang remaja putra membanting banting barang disekitarnya saat marah, dari mana mereka belajar , kalau bukan dari orang tuanya. Begitu pun ketika anak remaja putri berteria histeris saat marah, bisa jadi ia mencontoh ibunya saat marah.

 

Ayah dan Bunda,  cara merespon, mengekspresikan rasa marah kita sudah pasti akan dicontoh anak. Menjadi pengalaman yang akan anak bawah sampai menjadi orang tua kelak. Oleh karena itu harus hati-hati ketika menghadapi anak yang sedang tak stabil atau mendapati anak saat melakukan kesalahan.

 

Saat melihat anak melakukan kesalahan yang membuat kita hendak marah, maka cobalah melakukan beberapa hal berikut. Biasakan berekpsresi datar atau tetap tenang tanpa merengut. Alihkan pandangan sejenak dari anak jika merasa akan memicu ekspresi wajah marah. Setelah itu ambillah waktu sejenak sebelum mengeksekusi pelanggaran anak.

 

Mengambil jeda waktu sebelum melakukan tindakan merespon kesalahan anak merupakan cara meredahkan emosi orangtua dan bisa berfikir apa respon terbaik yang bisa diberikan kepada anak yang sedang bermasalah. Dengan demikina ayah bunda bisa memberi pengalaman mengontrol emosi yang baik pada anak. Namun saat orangtua yang langsung mengambil reakasi tanpa ada jeda dan berpikir sebentar cenderung menghasilkan tindakan negatif. Hal itu yang dikhawatirkan akan dicontoh anak dan menjadi pengalaman yang tersimpan pada diri anak.

 

Semoga kita menjadi orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik dalam mengendalikan diri saat emosi.

Artikel Guru Terbaru