Jejak Terbaik untuk Sebuah Ukiran Sejarah

Jejak Terbaik untuk Sebuah Ukiran Sejarah

oleh Haitami Fani

Sejarah oh sejarah….

Setiap hari kita beraktifitas, tentu semua orang menyadarinya. Namun diantara sekian banyak aktifitas yang telah kita lakukan, adakah yang tersimpan kuat di dalam memori kita? Jika ada, tentu  itu menjadi sebuah peristiwa yang sangat berkesan sehingga otak kita tidak bisa melupakannya. Saya membahasakannya bahwa setiap hari kita mengukir jejak-jejak hidup kita, maka ukiran terbaiklah yang akan menjadi sejarah buat kita dan orang lain.

Saya tidak menampikkan bahwa pertemuan ayah-bunda menjadi sebuah sejarah karena sampai kapan pun cerita pertemuan sampai ikatan pernikahan pun bisa diceritakan kembali secara detail. Bagi saya ini merupakan sejarah. Kelahiran juga sejarah. Prestasi-prestasi yang pernah diraih juga sejarah. Bahkan kematian  pun bisa menjadi sebuah sejarah. Hanya saja yang perlu dicatat adalah skala daya ledak sejarah yang telah kita torehkan. Semakin besar skala pengaruh ledakan catatan perisiwa itu kepada diri dan lingkungan maka semakin besar pula nilai sebuah sejarah tersebut.

Ayah bunda semua. Jika kita merenung lebih dalam lagi, maka sejarah hanya akan diisi oleh para pahlawan. Pada skala yang luas, kita mengetahui bahwa tongkat kepahlawanan peradaban di dunia ini secara bergantian diperebutkan oleh bangsa-bangsa. Begitu pula dengan bangsa, tongkat kepahlawananpun  silih berganti diperebutkan oleh suku-suku. Di dalam sebuah suku pun, tongkat ini terus diperebutkan oleh sebuah keluarga atau marga atau juga klan-klan.

Misalnya bangsa Arab yang pernah memegang peradaban. Di dalam bangsa arab sendiri terpilihlah Suku  Quraisy yang memiliki pengaruh yang paling besar. Di dalam perut suku Quraisy tersebut, Keluarga Bani Hasyim, yang kelak melahirkan sosok Rasul Muhammad Saw, pernah memegang tongkat kepahlawanan tersebut.

Pada saat sebuah klan/marga/ keluarga memegang tongkat kepahlawanannya terhadap suku atau bangsa, biasanya berkembang nilai-nilai luhur kepahlawanan dalam keluarga tersebut. Kemudian secara natural nilai-nilai tersebut diserap oleh anggota keluarganya. Dapat diambil kesimpulan bahwa jiwa kepahlawanan bisa diturunkan karena factor genetik dan juga lingkungan yang terbentuk dengan nilai-nilai luhur kepahlawanan. 

Perlu diketahui bahwa ketika jiwa kepahlawanan itu muncul maka dengan sendirinya jiwa tersebut mengumpulkan  kebaikan-kebaikan yang tersebar di antara anggota keluarganya sehingga jadilah ia yang terbesar diantara yang lainnya.

Khalid bin Walid, misalnya, lahir dari sebuah keluarga yang besar dan dihormati yang bernama Bani Makhzum. Beberapa saudaranya lebih dahulu masuk Islam dan banyak berjasa terhadap Islam. Namun kebaikan-kebaikan yang berserakan pada saudara-saudaranya mampu ia kumpulkan pada dirinyanya. Maka jadilah ia yang terbesar.

Contoh lainnya yaitu ketika saya menemui catatan sejarah pendiri NU dan Muhammadiyah. Ternyata secara genetic, mereka merupakan satu keturunan. Ditambah dengan lingkungan yang memiliki nilai luhur yang berhasil mereka serap sehingga menjadikan dirinya menjadi tokoh yang dikenang sepanjang masa.

Dari catatan ini, penting menurut saya seorang ayah menurunkan karakter kepahlawanannya (memancing sifat genetik kepahlawanan anak) yang diperkuat dengan membuat lingkungan yang kondusif dengan nilai luhur kepahlawanan. sosok ayah merupakan pahlawan pertama yang dapat dicontoh oleh setiap anggota keluarga. Jadi teringat ibu saya, beliau pernah mengatakan kalau ayah saya adalah pahlawan bagi hidupnya. Wallahua’lam Bishowab, saya tidak mengerti apakah itu sebuah candaan atau yang lainnya. Yang pasti mari kita buat seindah mungkin jejak-jejak kita agar menjadi sebuah ukiran sejarah.

Artikel Guru Terbaru