Kesederhanaan Diri

Kesederhanaan Diri

oleh Haitami Fani 

Sebelumnya, saya mohon maaf jika tulisan ini kurang menarik dan susah untuk dipahami. Mungkin karena sudah lama aktivitas menulis ditinggalkan, sehingga jari-jemari ini terasa berat dan kaku saat menari-nari di atas keybord. Begitu juga dengan susunan kata, agaknya sedikit janggal, kira-kira begitu. Namun kali ini saya mencoba belajar menulis lagi. Yah, kali ini Saya ingin mengangkat tema “Kesederhanaan”.

Makna kesederhanaan ini membawa saya kepada sebuah falsafah masyarakat Scandinavia yang amat terkenal yaitu Hukum Janteloven. Jangan berfikir kamu lebih baik dari kami, Jangan berfikir kamu lebih pintar dari kami, Jangan berfikir kamu lebih tahu, jangan berfikir kamu lebih penting, dan seterusnya. Itu beberapa bunyi hukum Janteloven yang terpatri dalam jiwa masyarakat Scandinavia.

Hukum Janteloven ini mampu membuat sikap rendah hati masyarakat. Dan ini dikenal dipenjuru dunia. Kalau boleh kita melirik sikap yang terpatri secara individu, maka kita bisa temui sikap tersebut kepada siapapun warga Scandinavia yang kita kenal ataupun yang kita temui. Sebagai contoh, hampir di setiap liga-liga Eropa ada saja pemain-pemain yang berasal dari Scandinavia. Sementara kita mengetahui  bahwa liga-liga Eropa adalah liga-liga sepak bola terbaik di dunia yang artinya bahwa mereka yang bisa bermain di pentas sana merupakan pemain-pemain yang terbaik. Yang lebih kagum lagi adalah ketika mereka menjadi bintang, mereka hidup sangat sederhana, tidak seperti  layaknya primadona.

Sebut saja Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm, trio Swedia yang terkenal dengan sebutan "Grenoli" ketika bermain di AC Milan di tahun 1950-an. Soren Lerby, Preben Elkjaer, Jari Litmanen, Morten Olssen, Michael dan Brian Laudrup, Jan Molby, Tomas Brolin, Ole Gunnar Solksjaer, Tore Andre Flo, Henrik Larsson, Thomas Helveg, Dennis Rommedahl, Sami Hyypia, Fredrik Ljungberg, Jon Dahl Tomasson, dan Peter Schmeichel yang merupakan pemain liga eropa di zaman sekarang.

Para pemain dari Scandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia, Islandia, dan Finlandia dan sekitarnya) sangat dikenal sebagai pemain yang rendah hati, pekerja keras, santun, tekun dan jauh dari kompleks inferior serta superior. Jauh dari sifat hedonis dan primadona. Mereka terlihat dingin dan tenang (Zlatan Ibrahimovic adalah kasus anomali dan ia merupakan imigran dari Balkan sehingga memiliki perangai yang berbeda). Dan Inggris merupakan Negara yang paling banyak menerima pemain dari Scandinavia.

Tidak hanya di cabang sepak bola, Bjorn Borg, Stefan Edberg, Mats Wilander pernah suatu ketika menjadi raja lapangan tenis. Atau Ari Vatanen sang penakluk (reli) Paris-Dakkar, dan juga Kimi Raikkonen di arena Formula 1. Padahal cabang olah raga ini merupakan cabang olah raga individual yang banyak menguras emosi dan ego. Namun, mereka tetap sederhana dan bersahaja.

Masih banyak lagi contoh lainnya, jika anda penggemar bulutangkis maka kita akan teringatkan bintang segala bintang untuk Eropa, Morten Frost Hansen yang berasal dari Denmark. Saking bersahajanya, ia mendapat julukan kehormatan "Mr. Gentleman" dari rekan seprofesinya di seluruh dunia. Sebuah pengakuan yang tidak main-main. Atau Peter Houg Gade yang mendapat julukan sebagai Mr. Trickster atau tuan penipu. Karena ketinggian kualitas dan kepintarannya menempatkan bola membuat dirinya banyak menjuarai kompetisi seperti All England, Grand Prix 16 kali, menjuarai kejuaraan Eropa 4 kali dan menjadi salah satu pemain tersukses sepanjang sejarah. Denmark adalah negara partisipan dalam bulutangkis. Kehadiran dan kerja kerasnya membuat catatan sejarah. Dia bukanlah sekedar legenda Denmark, namun dia merupakan legenda Eropa yang mendominasi pemain-pemain Asia. Lagi-lagi sebagai Skandinavian, dirinya tetap sederhana dan bersahaja.

Bahkan di dunia pesohor yang terkenal dengan kasus-kasus tonjolan ego yang melebihi kadar dan kelayakan akal sehat, guratan mentalitas khas Skandinavia itu sangat kuat untuk mereka yang berasal dari kawasan ini. Kita ingat ABBA, AHA, Roxette sebagai band-band terbesar yang muncul dari kawasan ini. Mereka ini di masa jayanya jarang sekali menunai atau menimbulkan kontroversi. Semuanya mendapat julukan yang hampir sama, "reluctant stars", bintang –bintang yang enggan menjadi bintang.

Julukan bintang yang enggan juga dikenakan untuk salah satu maha bintang pemeran film Holywood, Greta Garbo. Aktris asal Swedia dikenal sangat tidak suka publisitas dan memilih hidup menyendiri setelah mundur dari dunia akting di usia yang terhitung muda hingga ajalnya.

Negara Pendidikan terbaik Dunia

Scandinavia merupakan sebuah semenanjung yang berada di wilayah paling utara benua Eropa yang beriklim ekstrim. Matahari tidak muncul selama kurang lebih 50 hari jika di musim dingin dan matahari tidak terbenam selama kurang lebih 70 hari jika musim panas. Hal ini disebabkan Scandinavia berada pada wilayah artik. Secara geofrafis, Norwegia, Swedia, Denmark dan Finlandia merupakan negara yang terletak di wilayah Semenanjung Scandinavia dan warga negara-negara tersebut lantas disebut sebagai Skandinavian.

Salah satu negara Scandinavia yaitu Finlandia merupakan negara dengan kualitas pendidikan nomor satu di dunia. Negara ini baru menganjurkan pendidikan untuk anak-anak ketika berusia 7 tahun. Sungguh, usia yang dirasa cukup terlambat jika dibandingkan dengan negara kita yang mana orang tua sudah mulai berlomba dan pusing memikirkan anaknya untuk dapat mengantri pre-school yang bagus agar anaknya bisa masuk ke SD, SMP dan SMA favorit.

Negara yang hanya memberikan 4-5 jam/hari untuk pendidikan. Tidak ada anjuran PR dan tugas tambahan. Bahkan ujian nasional pun tidak begitu penting dan hanya sekali dilakukan ketika usia 16 tahun. Mengapa negara Finlandia bisa menjadi negara pendidikan terbaik di dunia?

Kuncinya adalah kualitas guru!

Pemerintah sangat percaya kepada guru. Hanya guru yang berhak dan paling mengerti cara penilaian yang paling sesuai dengan siswa-siswinya. Kalaupun ada tugas tambahan maupun PR, sang guru tidak memberikan penilaian benar atau salah terhadap pekerjaan siswa melainkan usaha yang dilakukan sang siswa.

Guru lebih mengutamakan penanaman hukum Janteloven kepada anak didiknya. Sehingga penilaian-penilaian tugas tidak diberikan bahkan sampai kelas 4 sekolah dasar. Guru tidak banyak menuntut siswa, menilai anak “salah” diyakini dapat membuat siswa terhambat belajarnya. Guru lebih interaktif dan menyenangkan ketika tampil di depan. Guru berusaha membuat siswanya have fun dalam mengikuti pembelajaran. Bahkan sampai ke jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran. Yang terpenting adalah adalah guru tidak menerapkan system ranking di kelas karena GURU PERCAYA BAHWA SEMUA MURIDNYA ADALAH JUARA.

Hukum janteloven benar-benar merasuk ke dalam jiwa Skandinavian. Sehingga dari guru, siswa dan orang tua sudah terbiasa menemukan sendiri cara mengajar dan belajar yang paling efektif bagi mereka sehingga mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar. Hasil pendidikan ini terlihat ketika siswanya berusia 15 tahun, dimana siswa Finlandia diusianya itu mampu mengungguli pelajar lain di seluruh dunia dalam tes international Programme for Interntional Student Assessment (PISA). Ini membuktikan efektivitas system pendidikan di Finlandia.

Masih ada lagi yang membuat saya kagum dengan negara yang satu ini. Negara ini merupakan negara dengan teknologi yang maju. Negara yang berhasil memproduksi telepon genggam bermerk Nokia yang mewah di zamannya. Dan saya yakin, beberapa diantara kita pernah memilikinya serta merasa bangga dan mewah ketika menggunakan fasilitas dari negara ini.

How about Us????

Sebuah pertanyaan yang menghujam. Saya coba resapi pertanyaan ini. Kalaupun Indonesia secara resmi menerapkan system pendidikan seperti Finlandia, maka hasilnya tetap tidak akan sama!! Ada yang kurang. Pendidikan mereka sukses salah satunya karena mereka mampu menerapkan hukum Janteloven. Hukum ini sangat terpatri dalam jiwa. Sedari anak-anak pun mereka sudah mengerti arti sebuah tanggung jawab. Sungguh berbeda dengan karakter bangsa kita.

Kalau lebih mendalam lagi, sebagai umat Islam seharusnya kita bisa lebih dari mereka. Hukum janteloven hanya sebagian kecil dari hukum yang ada di dalam Al-qur’an. Kerendahan hati (tawadu’), kerja keras, tidak sombong dan lain sebagainya sudah dibahas secara lengkap beserta hukuman atau akibat yang bisa ditimbulkan jika kita besikap hal yang sebaliknya.

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (Al Isra:37)

 

Wallahu ‘alam Bishowab

Artikel Guru Terbaru