Pandai Menjaga Perasaan

Kalau kita ingin mencari model kehidupan, maka Rasulullah lah yang paling patut kita contoh. Kita tidak pernah bosan jika membicarakan  segala aspek kepribadian beliau. Beliau memiliki akhlak yang tinggi dalam tatanan social. Maka tidak keliru jika saya katakan inspirasi selalu muncul jika mengenang perjalanan hidup beliau.

Suatu hari beliau ditemui oleh perempuan dari kalangan non Muslim. Ditengah-tengah banyaknya sahabat dan yang lainnya, Perempuan tersebut memberikan jeruk sebagai hadiah kepada Rasulullah. Rasulpun menerima kemudian mengupas dan kemudian memakannya. Kali ini beliau makan dengan sedikit berbeda. Beliau tidak membagi kepada sahabat-sahabat beliau dan menghabiskan buah jeruk tersebut seorang diri. Jika diperhatikan, seolah buah jeruk tersebut adalah buah yang paling enak. Jeruk tersebut dimakan oleh Rasulullah Saw sepotong demi sepotong dengan senyuman. Singkat cerita, Sang perempuan tadi pun pergi. Setelah pergi, para sahabat menanyakan sikap aneh beliau. Sambil  tersenyum beliau menjawab, “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu masam semasa saya merasainya pertama kali. Jika kalian turut memakannya, saya khawatir diantara kalian ada yang mengenyetkan mata atau memarahi perempuan tersebut. Saya khawatir, hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya”.

ilustrasi buah jeruk

Begitulah Rasulullah, beliau begitu menghargai dan tidak mencela pemberian seseorang biarpun pemberian tersebut tidak baik, dan bahkan dari orang yang bukan Islam. Sebenarnya, beliau bisa mengatakan bahwa jeruk ini terlalu masam. Atau bisa juga sekedar memejamkan mata sebagai tanda bahwa jeruk tersebut masam. Namun beliau tidak melakukannya dan menghabiskannya sendiri dengan menahan rasa masam dengan seuntai senyuman. Beliau juga mengkhawatirkan para sahabat jika memakan dan tidak bisa menjaga perasaan. Boleh jadi keluar kata-kata kasar “cuih, masam sekali jeruk ini”, atau sekedar memejamkan mata tentu hal ini akan sangat menyakitkan hatinya. Beliau tidak mau menyakiti hati orang yang telah memberikan jeruk tersebut. Oleh karena itu, butuh jiwa yang besar dan kelapangan dada untuk bersikap seperti itu.

Lebih dalam lagi, Islam mengajarkan untuk memuliakan orang lain dan melarangnya untuk mengkerdilkannya. Seperti yang ada pada surah Al Hujarat ayat 11-13 yang memberikan banyak nasehat. Laa yaskhar qaumun min qumin ‘asaa ayyakuunu khairan minkum bermakna janganlah kamu mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi yang diolok lebih baik dari pada yang mengolok. Selanjutnya walaa talmiizu anfusakum walaa tanaabadzu bil al qaab yang bermakna janganlah kamu saling mencela dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar atau panggilan yang jelek. Ketiga larangan ini yaitu mengolok, mencela dan memanggil dengan panggilan jelek merupakan tindakan yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

ilustrasi

Olok-mengolok menjadi fenomena memprihatinkan di era ini. Olok mengolok juga sering digunakan untuk membuat lelucon, bahkan ada yang dibayar untuk kasus ini. Tentu secara harkat dan martabat, olok-mengolok seperti ini sangat menjatuhkan dirinya. Sebagai contoh, “hei anak miskin atau hei orang negro” misalnya, maka olokan seperti ini sangat merendahkannya. Pun dengan memanggil orang lain dengan gelar atau panggilan yang jelek. Pada kasus anak-anak, biasanya mereka memanggil nama ayah mereka sebagai bahan olokan. Terlihat sederhana, namun pada dasarnya inilah titik yang akan menjadi besar dikemudian hari.

Apalagi bicara fisik misalnya, sering sekali fisik dijadikan sebagai bahan olokan atau untuk membuat candaan, sementara korban tentu terluka hatinya sambil menata wajah agar tidak terlihat sedih. Contoh misalnya, ada saudara kita yang matanya tidak bisa melihat, kemudian diolok teman-temannya dengan perkataan “si buta dari goa hantu” misalnya, tentu satu sisi ini terlihat lucu namun disisi lain ada hati yang tersakiti.

ilustrasi

Allah sangat melarang tindakan seperti ini. Bahkan ditegaskan dalam ayat tersebut bahwa bisa jadi yang diolok lebih baik dari pada yang mengolok. Pada kasus “si buta” tadi, bisa jadi ia buta karena menyumbangkan matanya untuk orang lain. Sejatinya manusia tidak mengetahui hakekat dari yang nampak, namun dibalik itu ada sesuatu yang menyebabkan dirinya lebih mulia dibanding yang mengolok.

Pada kasus Nabi Musa, ketika bertemu dengan Nabi Khaidir. Allah membimbing Nabi Musa untuk belajar kepada Nabi Khaidir. Ditengah perjalanan, Nabi Musa tidak berhenti bertanya dengan apa yang nampak dikerjakan oleh Nabi Khaidir. Secara kasat mata, tindakan Nabi Khaidir merupakan tindakan buruk, merusak perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan membangunkan rumah tanpa ada yang meminta. Dibalik itu semua ada hikmah yang sangat dalam, yakni perahu yang dirusak untuk menghindarkannya diambil oleh penguasa karena memiliki perahu yang bagus. Adapun membunuh anak kecil, ketika dewasa tidaklah soleh sehingga Nabi Khaidir pun meminta dikaruniai anak soleh sebagai gantinya. Sedang rumah yang dibangun tanpa izin itu, merupakan milik anak yatim. Semua ini tidak diketahui rahasianya oleh Nabi Musa.

Singkatnya, menjaga perasaan orang lain sangatlah dituntut oleh agama. Ia bisa bernilai sedekah, ia juga menjadi asbab dibangunkan kamar di surga dan ia pun juga dapat menjadi asbab diampuninya dosa-dosa. Semoga, anak-anak kita menjadi generasi yang mampu memberikan lingkungan yang baik, saling memuliakan dan rukun. Wallahu a’lam bishowab.

Artikel Guru Terbaru