Agar Allah Selalu Hadir di Hati Anak Kita

Sajadah tipis berwarna hijau membalut tumpukan mainan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sebuah rumah. Didepan rumah-rumahan tersebut ada boneka pokemon berwarna kuning, bertugas seperti penjaga pintu. Tepat diatasnya ada sehelai kertas yang bertuliskan “ dilarang membongkar, Allah Maha Melihat”. Tulisan itu menginformasikan kepada orang yang ada di rumah agar tidak membongkar rumah-rumahan tersebut.

 

Sepintas terlihat seperti informasi biasa, karena masih dalam konteks dunia bermain anak-anak. Namun bila ditelusuri lebih jauh, tulisan Naya yang masih duduk dikelas 3 Sekolah Dasar  ini,  memberikan informasi yang penting. Dalam cuplikan tulisan tertera nama Allah disana. Artinya, pengumuman tersebut mengandung nilai tauhid. Allah telah dilibatkan sebagai subyek Zat yang bisa membantunya menjaga rumah mainannya. Allah dihadirkan dalam semua proses aktivitas bermain yang dilakukan.

 

Kesadarannya akan keberadaan Allah berusaha ia ungkapkan dengan menulis bahwa Allah Maha Melihat. Kesadaran itu bertambah menjadi tajam dan dalam lagi, karena menggunakan kalimat Maha Melihat, hal itu menunjukan zat dan sifat  Allah sekaligus .Allah diyakini Zat-Nya, juga meyakini  sifat-Nya. Naya mungkin tak bisa menyebutkan dalil, tapi ia tetap yakin untuk mengikutsertakan Allah dalam tulisannya.

Hal itu bisa menunjukan sebuah proses yang sedang berjalan dalam membangun kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Dia tahu segalanya, tidak peduli jelas atau tersembunyi, terlihat atau tidak terlihat, di langit atau di bumi. Dia tahu masa lalu dan masa depan, kata-kata kita, pikiran, perasaan, yang tidak diwujudkan oleh tindakan kita atau tersembunyi di dalam hati kita . sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran di ayat-ayat berikut ;

 “Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa’: 134). “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11). Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.QS. An-Nisa' [4] : 148

Tidak mudah  bagi seorang anak yang masih berusia 8 tahun bisa melibatkan Allah dalam dunia bermainnya. pertanyaannya bagaimana seorang anak mampu mengingat Allah dalam setiap keadaan. Mampu melibatkan Allah di setiap aktivitas,  sampai jiwa, pikir dan hatinya  diliputi oleh nilai tauhid. Melalui apa Allah bisa terinstal dalam hatinya?

Anak belajar mengenal Allah dari keteladanan orang tuanya. Orang tua semestinya menjadi sarana media  bagi anak untuk mengenal Allah. Ayah bunda harus menyediakan bacaan keteladanan dengan memperagakan bagaimana memperlakukan  Allah dalam kehidupan sehari-hari.  Menghadirkan dan mengingat Allah saat berdiri, duduk, dan berbaring atau lafadz Allah selalu keluar dari lisan, saat berinteraksi dengan anak.

Dari keteladanan yang kontinyu dan konsisten,  anak akan menangkap informasi dan menyimpannya dalam otak bawah sadarnya. Segala sesuatu yang sudah mengendap dalam otak bawah sadar, akan menjadi refleks dalam kehidupan nyatanya. Ketika sesuatu sudah menjadi refleks itu pertanda bahwa hal tersebut telah menjadi bagian dari dirinya.

Ketika nilai tauhid telah terpendam dalam otak bawah sadar anak, saat itulah Allah telah bersemayam didalam hatinya. maka otomatis ia telah memiliki iman dalam dirinya. Ia percaya bahwa Allah itu Maha melihat. Itulah benih keimanan yang akan sangat membantu anak kelak saat menginjak masa balighnya. Dimana pada masa itu si Anak secara syar’i telah terbebani berbagai macam hal dari peraturan agama.

Jika benih iman itu tumbuh sejak kecil, maka ia akan menerima dengan ridho bahwa tiada tuhan selain Allah dan semua konsekwensi sebagai hamba Allah. Namun apa bila benih iman itu tidak tumbuh dengan semestinya, maka anak akan memasuki dunia baligh tanpa keimanan. Sehingga kita bisa lihat, banyak anak-anak yang memasuki usia baligh tapi masih melakukan penyimpangan yang melanggar syariat Allah.

Jika Allah sudah menjadi bagian hidup anak kita, maka dari pikirannya yang jernih akan terefleksikan dalam tindakan sehari-hari. lisannya berucap Allah, keputusan kecilnya akan digantungkan pada Allah. Jika anak kita seperti itu, dia akan menjadi jalan bagi orang tua untukmengingat Allah. Semoga dengan anak kita yang selalu menghadirkan Allah dalam kehidupannya membuat hati kita menjadi tenang. Sebagaimana firman-Nya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du:28).

Artikel Guru Terbaru