Meraih Keberkahan yang Sempurna serta Rahmat dari Allah Swt.

Kali ini saya mendapatkan inspirasi menulis dari sebuah ayat yang sering dibaca oleh imam Masjid Karang Bugis. Rasa penasaran saya akhirnya membawa saya untuk berusaha menemukan ayat tersebut. Ialah Surah Al-Baqarah ayat ke-156. Penasaran saya ini memiliki alasan, sebab sering kali diantara kita ketika ada orang yang meninggal dunia, kemudian mengucap “Innalillahi wainna ilaihi raji’un” dan hal inilah yang membuat saya ingin mengeksplorasinya. Singkat kata, ketika saya membaca dan memperhatikan, maka ayat ini semakin lengkap dengan satu ayat sebelumnya dan sesudahnya.

Sebelumnya saya memohon maaf jika saya terlalu berlebihan dalam mengupas ayat ini karena pada dasarnya saya pribadi bukanlah ahli tafsir. Setidaknya saya mengupas ayat ini dengan tidak terlalu jauh dari tafsir-tafsir para ulama. Kira-kira terjemahan ayat tersebut seperti ini (155-157) – terjemahan Qur’an for Android -.


 

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un”.

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Saya sengaja memberikan cetak tebal agar kita mudah mengingatnya.

Jadi begini, dalam penelusuran ayat tersebut saya kemudian mendapatkan sesuatu yang memiliki korelasi dengan ayat di atas. Al Ankabut ayat 2-3 yang artinya seperti ini.

 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Dengan begini benang merahnya mulai terhubung. Ketika kita mengikrarkan bahwa saya beriman, tidak lantas pengakuan itu sebatas ucapan saja. Akan tetapi, kita akan diberikan berbagai ujian. Pada proses ujian yang diberikan oleh Allah berlangsung, maka disinilah titik yang akan menentukan posisi kita. Apakah kita termasuk orang yang benar dengan perkataannya atau kita termasuk orang yang meletakkan iman hanya sekedar ucapan saja. Ujian ini juga berfungsi untuk menentukan kelas kita di mata Allah. Layaknya para sisiwa yang menghadapi ujian, maka semakin tinggi kelasnya semakin berat ujiannya. Jika ditanya kenapa harus kita orang islam yang diuji oleh Allah? Jawabnya karena hanya orang yang sekolah saja yang mengikuti ujian.

Jika disekolah, para guru memberikan kisi-kisi atau materi-materi ujian untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian, maka Allah juga memberikan kisi-kisi kepada kita beserta kunci jawaban agar kita mempersiapkan diri jika ujian tersebut diberikan mampu melewatinya dengan baik. Bedanya ujian Allah dengan ujian sekolah adalah pada waktu pelaksanaannya. Jika sekolah punya waktu dan tempat yang terencana untuk mengadakan ujian bagi siswanya, maka Allah memberikan ujian kepada manusia dengan waktu yang tidak terukur. Kapanpun dan dimanapun ujian bisa berlangsung. Sebagai bentuk persiapan akan ujian tersebut, maka kisi-kisi yang diberikan pada surat Al-Baqarah ayat 155 tersebut menjadi panduan kita agar kita betul-betul mengingatnya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut, maka kita akan diuji dengan sedikit ketakutan. Pada dasarnya Allah membekali kita dengan dua rasa yakni rasa takut dan rasa berani. Ketika rasa takut mendominasi jiwa seseorang, maka ia akan disebut sebagai orang yang penakut. Jika yang mendominasi jiwanya adalah rasa berani, maka dia disebut sebagai seorang pemberani. Ini alami dan mutlak adanya.

Setiap jiwa memiliki hasrat untuk meraih kesusksesan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya. Singkat cerita, jadilah ia menjadi pribadi yang sukses, kaya, berpangkat dan berkedudukan. Banyak orang yang mengumpulkan harta dan mengejar pangkat serta kedudukan dengan berbagai cara. Etika dan norma-norma mulai semu, halal haram menjadi tak terlihat lagi. Disni rasa takutpun perlahan masuk ke dalam jiwanya. Ia takut miskin, ia takut pangkatnya dicopot, ia juga takut kedudukannya tidak berwibawa dan tidak berpengaruh lagi dan puncak dari rasa takut ini adalah, ia akan takut mati.

Rasa takut kian membesar, dan pada fase ini ia akan mempersiapkan diri untuk melawan rasa takut itu dengan caranya sendiri.  Pertama adalah takut miskin. Ia mulai menghimpun harta sebanyak mungkin. Rasa takut ini membuatnya enggan memberikan sebagian hartanya kepada yang memiliki hak atas harta tersebut. Jadilah ia seorang yang kikir. Dengan segala rencananya, ia siapkan harta untuk anak-anaknya, cucu-cucunya, anak-anak dari cucu-cucunya, singkat kata tujuh turunan ia siapkan untuk meneruskan harta yang ia kumpulkan.

Beda lagi dengan seseorang yang takut pangkatnya dicopot. Wibawanya tidak ada lagi atau ia takut kalau ia tidak dihormati. Maka pada fase ini, banyak cara yang ia lakukan agar ia terhindar dari masalah tersebut. Jadilah ia pribadi yang penjilat. Jilat sana, jilat sini. Kalau saya boleh ambil istilah dari ust. Anwari, mereka ini seperti “Anjing”. Saya coba cermati sifatnya dan focus kepada sifatnya saja. Dimana-mana anjing akan taat kepada siapa yang memberi ia makan. Tak peduli apakah itu tuannya atau bahkan maling yang akan merampok rumah tuannya. Pada titik ini, mereka akan berusaha sekuat tenaga mengamankan posisinya, sogok sana sogok sini, jilat sana jilat sini. Hal ini dilakukan agar ia tetap memiliki pangkat dan kedudukan yang tinggi. Benar salah menjadi buram.

Selanjutnya puncak dari pada rasa takut yang diujikan adalah kematian. Seseorang akan takut mati. Mati adalah sebuah kenyataan dan pasti adanya. Setiap hidup pasti mati. Kaidah ini mutlak. Kita hanya menunggu giliran saja. Tak satupun yang bisa lepas dari kematian. Oleh karena kematian yang waktunya belum diketahui inilah yang membuat seseorang menjadi sangat takut. Takut ia meninggalkan harta yang banyak yang belum sempat ia nikmati. Takut karena ia meninggalkan keluarga yang banyak. Takut karena kematiannya membuatnya harus meninggalkan permasalahan dunia yang belum ia selesaikan. Takut jika kematian menghampiri sementara cita-cita yang ia susun belum terwujud dan sebagainya.

Pada fase ini, rasa takut yang besar akan kematian membuat lingkaran kekufuran semakin besar. Ia menjadi lupa daratan. Kufur nikmat rentan terjangkiti kepada pribadi seseorang di titik ini. Oleh karenanya, ia sibuk menghitung-hitung harta, sibuk dengan urusan dunia, sibuk untuk mengejar cita-cita namun lupa bersyukur atas prestasi yang sudah ia dapatkan. Sedikitpun kehidupan tidak terasa nikmat. Rasa nikmat yang sejati adalah rasa senang, bahagia, puas yang menggema dalam hati bukan rasa nikmat yang hanya sebatas panca indera saja namun sebenarnya rasa nikmat itu jauh menembus dimensi lain. Ia tidak lagi mendapatkan kebahagiaan di tengah rumah yang besar. Ia pun tidak mendapati manfaat dari banyaknya harta yang ia miliki. Semua terasa hampa.

Maka satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan mengetuk pintu hatinya yang terdalam. Setiap mukmin masih memiliki hati yang mampu memberikan nasehat apakah yang dilakukan ini benar atau salah. Hati orang beriman tidak pernah berdusta. Mungkin lidah bisa berkilah. Ia bisa berbohong untuk kepentingan tertentu. Sayangnya setiap kebohongan yang dilakukan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan yang lain. Tindakan seperti ini ditambah dengan rasa taku yang besar membuat hati sukar terkoneksi kepada Sang pemilik hati. sejatinya, jika kita bertanya dengan sungguh-sungguh, maka hati akan menjawab dengan memberikan sinyal-sinyal yang bisa ditangkap dengan kejernihan pikiran.

Jika kita mengikuti kisi-kisi ujian yang diberikan oleh Allah dengan benar, maka kita termasuk bagian dari golongan yang beruntung. “Innalillahi Wainna Ilaihi raji’un” adalah kunci jawaban dari apa yang diujikan oleh Allah. Jiwa seorang hamba yang ikhlas dan sabar serta mengembalikan semua ini kepada Sang Maha Mengatur, maka ia akan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan juga ia mendapat rahmat dari Allah Swt.

Jiwa yang bebas akan berfikir bahwa harta yang begitu banyak hanyalah titipan sehingga sedikitpun ia tidak takut untuk membagi dan menginfakkannya dijalan Allah. Ia sedikitpun tidak takut kalau anak dan keturunannya tidak berharta atau miskin. Ia condong yakin, bahkan haqqul yakin kepada Allah bahwa Allah sebaik-baik Sang Pengatur. Harta yang ia miliki adalah sebagai sarana untuk memberikan kemaslahatan yang banyak bagi umat. Jadilah dia seorang yang penderma yang banyak membangun dan mensejahterkan umat. Namanya pun disebut-sebut oleh makhluk yang di langit dan di bumi.

Jiwa yang bebas akan berfikir bahwa pangkat, jabatan dan kedudukan juga sebatas titipan. Alat untuk memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya. Tidak sedikitpun ia takut jika jabatannya dicopot. Tidak sedikitpun ia takut wibawanya runtuh dan tidak sedikitpun ia takut bahwa dirinya tidak mendapat tempat yang layak. Ia sangat yakin kalau ia masih bisa berkarya. Ia pun haqqul yakin bahwa Allah adalah Maha Perkasa lagi maha Tinggi derajatnya. Maka jadilah ia memiliki kepribadian yang kuat yang memberikan banyak ide dan kontribusinya untuk kemajuan umat. Maka namanya pun disebut-sebut oleh makhluk yang di langit dan di bumi.

Begitu juga dengan kematian. Puncak ketakukan setiap manusia yang pasti akan terjadi. Tidak sedikitpun ia takut mati. Cepat atau lambat. Ia sangat yakin bahwa Allah maha Hidup yang mana telah memberikan kehidupan kepadanya. Maka jadilah ia pribadi yang Isy Kariman au Muut syahiidan. Hidup mulia atau mati syahid. Jasad boleh mati, tapi namanya hidup sepanjang masa. Jasad boleh terkubur, namun namanya tetap harum. Seperti Nabi Muhammad yang jasadnya sudah terkubur ribuan tahun yang lalu namun namanya tetap dikenang dan disebut sepanjang masa. Begitu juga dengan tokoh yang lain, dimana usia mereka tidak terlalu panjang namun Allah takdirkan namanya dikenang sepanjang masa.

Mereka inilah termasuk golongan yang mendapatkan keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhannya berkat kesabarannya. Subhanallah, begitu indah dan nikmat jika jiwa kita seperti jiwa-jiwa yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan. semoga kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang tangguh yang mampu melewati semua ujian yang diberikan oleh Allah. Wallahu’alam bishowab. (hai)

Artikel Guru Terbaru