Saat HARUS memberikan RESPON

TAK biasanya saat ia tersenyum menghampiri meja saya-lalu menyampaikan sesuatu yang menggembirakan atas apa yang ia raih. "Bu, nilaiku bagus-bagus! PAIku sembilan, Gak ada yang tujuh"

Dengan mata berbinar ia menceritakan pencapaiannya yang luar biasa. Sambil mengoreksi dan sesekali memberikan respon padanya. "Dipertahankan, ya!"

"Kok begitu bu. Memangnya nilaiku jelek?"

Saya lalu mengangkat kepala. Sadar sepenuhnya kalau sikap saya salah. Saat ia berbicara saya lupa untuk menyudahi sejenak koreksian saya.

"Bukan begitu, Kak. Nilai kakak sudah sangat bagus. Mempertahankannya yang susah. Nah, maksud ibu ayo mujahadahnya lebih ditingkatkan lagi untuk ujian selanjutnya."

Ia tersenyum. Jadilah wajahnya yang rada jutek itu sumringah seharian. Sungguh ada kelegaan, bahagia yang bercampur saat melihatnya.

 Itulah kita-terkadang menempatkan sesuatu tidak tepat prediksinya. Mengira dengan satu respon cukup bagi ananda kita. Ternyata....sepenuhnya tidak. Mereka butuh ketulusan yang kita ucapkan bukan sekedar dari lisan tetapi juga dari gurat senyum saat menyampaikannya.

Mereka butuh perhatian meski bentuknya sederhana. Saat mereka mampu menyampaikan apa yang ia rasakan pada kita sesungguhnya ananda kita telah memberikan kepercayaan sepenuhnya pada kita. Sebab tak semua anak akan menyampaikan rasanya saat senangnya atau sedihnya.

 Maka tugas kita adalah memberikan apresiasi meskipun hanya sebuah respon berupa tatap mata yang mana kita benar-benar mendengarkan apa yang ia sampaikan tanpa sibuk dengan aktifitas lainnya. Tinggalkan aktifitas apapun saat ananda menepi pada kita, menyampaikan perasaannya. Saat kita memberikan penghargaan itu, maka lihatlah bagaimana ia bersikap setelahnya. Ia akan menjadi sosok yang lebih manis dan penuh percaya diri. Sebab kita orang lain yang bukan orangtua atau keluarganya mampu memberikan rasa percaya padanya-setelah orangtuanya.

Yuk mari lebih peka dalam memberikan respon pada ananda kita.

By Ainan Takhsyaallah

Artikel Guru Terbaru