Homevisit SMP Integral Luqman Al Hakim

Silaturahim merupakan budaya Pondok Pesantren Hidayatullah yang kemudian dijaga tradisinya sampai ke unit pendidikan formal Lembaga Pendidikan Integral Luqman Al Hakim. Bersama Ustad Abul A’la Maududi, selaku kadiv Humas dan juga Direktur LPI Luqman Al Hakim (menggantikan Ust. Muzakkir yang tengah mengikuti pendidikan di Madinah) bersilaturahim ke salah satu rumah siswa SMP Integral Luqman Al Hakim, Ivananda Kelas 9.

“Silaturahim sudah mendarah daging. Ayah-bunda yang anaknya dititipkan di LPI Luqman Al Hakim baik yang sudah lulus apalagi yang masih bersekolah, semuanya adalah keluarga kami. Oleh karena itu, selayaknya keluarga, maka kami wajib menjaga hubungan ikatan keluarga ini”, ucapnya saat mengawali pertemuan.

Saya mencermati dengan seksama, suasana hangat yang dibangun sungguh indah. Baik dari pihak sekolah maupun pihak yang dikunjungi sama-sama terbuka. Banyak pesan yang membangun yang sekolah terima. “Seiring dengan masukan tersebut, LPI Luqman Al Hakim menata langkah agar sekolah lebih maju dan lebih baik”, tambah Ust. Dudi.

Saya juga merasa, beliau ingin menjaring secara langsung informasi dari para orang tua. Walhasil, banyak tukar pendapat yang positif dalam diskusi tersebut.

Seiring dengan perbincangan, saya mendapat banyak ilmu. Ibunda Ivananda yang merupakan seorang dokter, memberikan ilmu terkait kesehatan. Kamipun secara spontan berkonsultasi. Beda lagi dengan abinya. Prajurit TNI berpangkat letkol ini bercerita saat menyekolahkan Ivan. Beliau memberikan pilihan tegas kepada ananda “pilih sekolah di pesantren atau tidak sama sekali”.

Subhanallah, jauh dari perkiraan saya. Ternyata dasar pertimbangan beliau adalah konstelasi politik serta masa depan bangsa yang tengah terancam inilah yang memotivasi beliau untuk menyekolahkan anak-anaknya di pesantren.

Diskusi ini sungguh memberikan ilmu serta membuka wawasan berfikir. Sayangnya, waktu yang terbatas menjadi asbab kami harus mengakhirinya. Selepas magrib, kamipun pulang. Namun, tetap ada mengganjal dipikiran saya bahwa kondisi Negara yang tengah terancam sungguh-sungguh membuat hati sakit. Di dalam lubuk, tersisip doa “semoga Bangsaku menjadi generasi qur’ani”. (hai)

Berita Terbaru